headerphoto    | Home | Pemerintah Kabupaten Kulon Progo |

SELAMAT DATANG

Kita memasuki wilayah Kabupaten Kulon Progo dari arah Timur (Kota Yogyakarta). Jarak dari kota Yogyakarta ke Kulon Progo 25 Km. Kabupaten Kulon Progo terdiri dari 12 Kecamatan dan 88 desa. Data potensi industri Kabupaten Kulon Progo Tahun 2009 terdiri dari:

Jenis Industri

Unit USaha

Tenaga Kerja

Investasi  

(000)

Nilai

Nilai Tambah

(000)

Produksi

(000)

Bahan Baku

(000)

Pengolahan pangan

12.441

32.613

23.161.857

 

223.638.188

119.950.679

103.687.509

Sandang dan kulit

878

2.929

2.309.374

18.619.196

10.612.385

8.006.811

Kimia dan bahan bangunan

927 3.280 8.603.619 41.21.275 20568.068 20.653.207

Logam dan Jasa

684 1.889 2.059.219 9.070.861 4.362.982 4.707.879

Kerajinan dan umum

5.721

16.577

20.740.931

75.250.480

38.505.886

36.744.594

JUMLAH

20.651

57.288

56.875.000

367.800.000

194.000.000

173.800.000

Dari data diatas dapat diketahui bahwa industri di wilayah Kabupaten Kulon Progo pada Tahun 2009 terdiri dari 20.651 unit usaha, dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 57.288 orang, jumlah investasi secara keseluruhan ada Rp. 56.875.000.000.,-  (56,875 milyar), nilai produksi selama 1 tahun sebesar Rp 367.800.000.000,- (367,8 milyar), membutuhkan bahan baku dan bahan penolong/pembantu senilai Rp 194.000.000.000,- (194 milyar) yang mempunyai nilai tambah Rp 173.800.000.000,- (173,8 milyar)

Kabupaten Kulon Progo mempunyai 92 sentra industri yang terdiri: sentra industri pengolahan pangan, sentra industri sandang dan kulit, sentra industri kimia dan bahan bangunan, sentra industri logam dan jasa, dan sentra industri kerajinan dan umum. Dari 92 sentra industri terdiri dari 4.071 unit usaha menyerap tenaga kerja 12.977 orang, nilai peralatan dan mesin (investasi) Rp 3.865.867.000,- ( 3,865 milyar) dengan nilai produksi Rp 97.460.375.000,- (97,4 milyar), nilai bahan baku selama 1 tahun Rp 52.616.811.000,- (52,6 milyar), kemudian mendapatkan nilai tambah Rp 44.843.564.000,- (44,8 milyar)

Salah satu industri unggulan DIY pada umumnya dan Kulon Progo pada khususnya adalah industri kerajinan. Komoditas kerajinan unggulan Kulon Progo salah satunya adalah industri kerajinan batik. Kerajinan/Industri batik memiliki corak dan jenis/motif batik yang beraneka ragam. Di  DIY pada umumnyamotif batik  mendapat pengaruh agama Hindu, Budha, dan Islam. Industri Batik di Kulon Progo tersebar di beberapa Desa. Adapun beberapa jenis batik di Kulon Progo adalah batik cap, batik lukis, batik tulis serta batik kombinasi antara cap dan tulis. Sedangkan potensi batik di Kulon Progo ada 77 unit usaha dengan menyerap 252 orang tenaga kerja dengan investasi peralatan dan mesin Rp 253.600.000,-. Selama 1 tahun dapat menghasilkan 42.480 potong, nilai produksinya Rp 3.984.633.000,- dengan bahan baku dan bahan penolong Rp 2.005.374.000,- dari hasil produksi mendapatkan nilai tambah Rp 1.979.259.000,-.

Batik merupakan salah satu bahan yang dipakai untuk membuat pakaian. Batik bisa mengacu pada 2 hal yaitu: yang pertama adalah tehnik pewarnaan kain dengan menggunakan malam yang berguna untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur Internasional, tehnik ini dikenal sebagai wax-resist dycing. Pengertian yang kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan tehnik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, tehnik pengolahan kain (batik) telah dikenal sejak sebelum pengaruh Hindu masuk ke Nusantara sekitar abad IV Masehi, bukti-buktinya tertuang dalam sejumlah prasasti dan arca kuno (Timbul Haryono,Guru Besar Arkeologi UGM). Sejumlah prasasti dari abad IX menyebutkan jenis-jenis kain yang diolah dengan tehnik mirip batik, motif pada busana arca mirip dengan motif batik kawung yang dikenal saat ini.

 

Batik Indonesia sebagai keseluruhan tehnik, teknologi serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan bendawi (MASTERPIECES OF THE ORAL AND INTANGIBEL HERITAGE OF HUMANITY) sejak 2 Oktober 2009. Dalam literatur Eropa,  tehnik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku HISTORY OF JAVA (London, 1817) tulisan SIR THOMAS STANFORD RAFFLES. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa NAPOLEON menududki BELANDA, pada tahun 1873 seorang saudagar Belanda VAN RIJEKEVORSEL memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke MUSEUM ETNIK di ROTTERDAM dan pada awal abad ke-19 iitulah batik mulai mencapai masanya. Sewaktu batik dipamerkan di EXPOSITION UNIVERSELLE di Paris pada tahun 1900 batik Indonesia memukau publik dan seniman.

 

Semenjak industrialisasi dan globalisasi yang memperkenalkan teknik otomatis, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut BATIK TULIS. Batik yang ada di Kulon Progo merupakan hasil dari olah cipta, rasa, dan karsa serta kristalisasi nilai-nilai kearifan lokal masyarakat di Kabupaten Kulon Progo yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat dan dijunjung tinggi sebagai sebuah wahana bernilai norma-norma kehidupan yang luhur dan Batik juga merupakan sebuah produk warisan budaya oleh para leluhur kita yang adiluhung.

--->